Daftar Organisasi Internasional yang tidak Termasuk Subjek PPh

Dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 215/PMK.03/2008 yang dirubah dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 15/PMK.03/2010 dijelaskan tetang penetapan Organisasi Internasional dan Pejabat Perwakilan Organisasi Internasional yang tidak termasuk subjek PPh di Indonesia. Dalam penjelasan tersebut dijelaskan Organisasi Internasional mana saja yang tidak termasuk subjek PPh di Indonesia.

Berikut ini nama-nama dari Organisasi Internasional yang tidak termasuk subjek PPh di Indonesia:

Badan-badan Internasional dari Perserikatan Bangsa-Bangsa:

  • ADB (Asian Development Bank)
  • IBRD (International Bank for Reconstruction and Development)
  • IFC (lnternational Finance Corporation)
  • IMF (International Monetary Fund)
  • UNDP (United Nations Development Programme), meliputi:
  1. IAEA (International Atomic Energy Agency)
  2. ICAO (International Civil Aviation Organization)
  3. ITU (lnternational Telecommunication Union)
  4. UNIDO (United Nations lndustrial Development Organizations)
  5. UPU (Universal Postal Union)
  6. WMO (World Meteorological Organization)
  7. UNCTAD (United Nations Conference on Trade and Development)
  8. UNEP (United Nations Environment Programme)
  9. UNCHS (United Nations Centre for Human Settlement)
  10. ESCAP (Economic and Social Commission for Asia and The Pacific)
  11. UNFPA (United Nations Funds for Population Activities)
  12. WFP (World Food Programme)
  13. IMO (International Maritime Organization)
  14. WIPO (World Intellectual Property Organization)
  15. IFAD (International Fund for Agricultural Development)
  16. WTO (World Trade Organization)
  17. WTO (World Tourism Organization)

Dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 215/PMK.03/2008 yang dirubah dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 15/PMK.03/2010 dijelaskan tetang penetapan Organisasi  Internasional dan Pejabat Perwakilan Organisasi Internasional yang tidak termasuk subjek PPh di Indonesia.

  • FAO (Food and Agricultural Organization)
  • ILO (lnternational Labour Organization)
  • UNHCR (United Nations High Commissioner for Refugees)
  • UMC (United Nations lnformation Centre)
  • UNICEF (United Nations Childrens Fund)
  • UNESCO (United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization)
  • WHO (World Health Organization)
  • World Bank

Kerjasama Teknik:

  • Kerjasama Teknik Australia – Republik Indonesia (Australia-Indonesia Partnership)
  • Kerjasama Teknik Canada – Republik Indonesia
  • Kerjasama Teknik India – Republik Indonesia
  • Kerjasama Teknik Inggris – Republik Indonesia
  • Kerjasama Teknik Jepang – Republik Indonesia
  • Kerjasama Teknik New Zealand – Republik Indonesia
  • Kerjasama Teknik Negeri Belanda – Republik Indonesia
  • Kerjasama Teknik Rusia – Republik Indonesia
  • Keriasama Teknik Jerman – Republik lndonesia
  • Kerjasama Teknik Perancis – Republik Indonesia
  • Kerjasama Teknik Negeri Polandia – Republik Indonesia
  • Kerjasama Teknik Amerika Serikat – Republik Indonesia (USAID: United States Agency for International Development)
  • Kerjasama Teknik Swiss – Republik Indonesia
  • Kerjasama Teknik Italia – Republik Indonesia
  • Kerjasama Teknik Belgia – Republik Indonesia
  • Kerjasama Teknik Denmark – Republik Indonesia
  • Kerjasama Teknik Korea – Republik Indonesia
  • Kerjasama Teknik Finlandia – Republik Indonesia
  • Kerjasama Ekonomi dan Teknik Malaysia – Republik Indonesia
  • Kerjasama Ekonomi dan Teknik Singapura – Republik Indonesia
  • Kerjasama Ekonomi, Perdagangan dan Teknik RRC – Republik Indonesia
  • Kerjasarna Ekonomi, Ilmu Pengetahuan dan Teknik Vietnam – Republik Indonesia
  • Kerjasama Ekonomi dan Teknik Thailand – Republik Indonesia
  • Kerjasama Ilmu Pengetahuan dan Teknik Meksiko – Republik Indonesia
  • Kerjasama Teknik Kerajaan Arab Saudi – Republik lndonesia
  • Kerjasama Teknik Iran – Republik Indonesia
  • Kerjasama Teknik Pakistan – Republik Indonesia
  • Kerjasama Teknik Philippina – Republik lndonesia

Kerjasama Kebudayaan:

  • Kerjasama Kebudayaan Belanda – Republik lndonesia
  • Kerjasama Kebudayaan Jepang – Republik Indonesia
  • Kerjasama Kebudayaan Mesir/ RPA – Republik Indonesia
  • Keriasama Kebudayaan Austria – Republik lndonesia

Organisasi-Organisasi Internasional Lainnya:

  • Asean Secretariat
  • SEAMEO (South East Asian Minister of Education Organization)
  • ACE (The ASEAN Centre for Energy)
  • NORAD (The Norwegian Agency for International Development)
  • Plan International Inc.
  • PCI (Project Concern International)
  • IDRC (The International Development Research Centre)
  • Kerjasama Teknik di bidang Perkoperasian antara DMTCI/CLUSA – Republik Indonesia
  • NLRA (The Netherlands Leprosy Relief Association)
  • The Commission of The European Communities
  • OISCA INT. (The Organization for Industrial, Spiritual and Cultural Advancement International)
  • World Relief Cooperation
  • APCU (The Asean Heads of Population Coordination Unit)
  • SIL (The Summer Institute of Linguistics, Inc.)
  • IPC (The International Pepper Community)
  • APCC (Asian Pacific Coconut Community)
  • INTELSAT (International Telecommunication Satellite Organization)
  • People Hope of Japan (PHJ) dan Project Hope
  • CIP (The International Potato Centre)
  • ICRC (The International Committee of Red Cross)
  • Terre Des Hommes Netherlands
  • Wetlands International
  • HKI (Helen Keller International, Inc.)
  • Taipei Economic and Trade Office
  • Vredeseilanden Country Office (VECO) Belgia
  • KAS (Konrad Adenauer Stiftung)
  • Program for Appropriate Technology in Health, USA-PATH
  • Save the Children-US dan Save the Children-UK
  • CIFOR (The Center for International Forestry Research)
  • Islamic Development Bank
  • Kyoto University-Jepang
  • ICRAF (the International Centre for Research in Agroforestry)
  • Swisscontact – Swiss Foundation for Technical Cooperation
  • Winrock International
  • Stichting Tropenbos
  • The Moslem World League (Rabithah)
  • NEDO (The New Energy and Industrial Technology Development Organization)
  • HSF (Hans Seidel Foundation)
  • DAAD (Deutscher Achademischer Austauschdienst)
  • WCS (The Wildlife Conservation Society)
  • BORDA (The Bremen Overseas Research and Development Association)
  • ASEAN Foundation
  • SOCSEA (Sub Regional Office of CIRDAP in Southeast Asia)
  • IMC (International Medical Corps)
  • KNCV (Koninklijke Nederlands Centrale Vereniging tot Bestrijding der Tuberculosis)
  • Asia Foundation
  • The British Council
  • CARE (Cooperative for American Relief Everywhere Incorporation)
  • CCF (Christian Children’s Fund)
  • CRS (Catholic Relief Service)
  • CWS (Church World Service)
  • The Ford Foundation
  • FES (Friedrich Ebert Stiftung)
  • FNS (Friedrich Neumann Stiftung)
  • IRRI (International Rice Research Institute)
  • Leprosy Mission
  • OXFAM (Oxford Committee for Famine Relief)
  • WE (World Education, Incorporated, USA)
  • JICA (Japan International Cooperations Agency)
  • JBIC (Japan Bank for International Cooperation)
  • KOICA (Korea International Cooperation Agency)
  • ERIA (Economic Research Institute for ASEAN and East Asia)
  • JETRO (Japan External Trade Organization)

Untuk selengkapnya dapat diunduh disini.

Definisi Organisasi dan Pejabat Internasional yang bukan Subjek PPh

Bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 3 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan dan perubahannya Menteri Keuangan menetapkan organisasi internasional dan pejabat perwakilan organisasi internasional yang tidak termasuk Subjek Pajak Penghasilan.

Dalam rangka lebih memberikan kepastian hukum mengenai perlakuan perpajakan bagi organisasi internasional dan pejabat perwakilan organisasi internasional perlu mengatur kembali organisasi-organisasi internasional dan peiabat-pejabat perwakilan organisasi internasional yang tidak termasuk sebagai Subjek Pajak Penghasilan.

Berdasarkan surat Nomor B-9980/Setneg/Setmen/KTLN /08/2007 tanggal 3 Agustus 2007 dan surat Nomor B-10929/Setneg/Setmen/KTLN /05/2008 22 Mei 2008, Sekretariat Negara telah menyampaikan rekomendasi dan data kegiatan serta data pendukung dalam rangka penetapan organisasi internasional dan pejabat perwakilan organisasi internasional yang tidak termasuk Subjek Pajak Penghasilan.

Berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud diatas, maka perlu ditetapkan Peraturan Menteri Keuangan tentang Penetapan organisasi-organisasi Subyek Pajak Penghasilan sesuai dengan Undang-Undang Nomor 7 Tahun1983 tentang Pajak Penghasilan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1993 Nomor 50, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3263) sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor L7 Tahun 2000 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 127, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3985), serta Keputusan Presiden Nomor 20/P Tahun 2005.

Peraturan Menteri Keuangan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan yaitu tanggal 16 Desember 2008 dan tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 215/PMK.03/2008.

Organisasi-organisasi internasional yang memenuhi syarat sebagai bukan Subjek Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud adalah sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran Peraturan Menteri Keuangan yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri Keuangan.

Pada saat Peraturan Menteri Keuangan ini mulai berlaku, Keputusan Menteri Keuangan Nomor 574/WlK.04/2000 tentang Organisasi-organisasi Internasional dan Pejabat Perwakilan Organisasi Internasional yang tidak termasuk sebagai Subjek Pajak Penghasilan sebagaimana telah diubah terakhir dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 87/PMK.03/2002 dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

Dalam Peraturan Menteri Keuangan tersebut, yang dimaksud dengan:

Organisasi lnternasional adalah organisasi/ badan/ lembaga/ asosiasi/ perhimpunan/ forum antar pemerintah atau non Pemerintah yang bertujuan untuk meningkatkan kerjasama internasional dan dibentuk dengan aturan tertentu atau kesepakatan bersama.

Pejabat perwakilan organisasi internasional adalah pejabat yang diangkat atau ditunjuk langsung oleh induk organisasi internasional yang bersangkutan untuk menjalankan tugas atau jabatan pada kantor perwakilan organisasi internasional tersebut di Indonesia.

Organisasi-organisasi internasional yang tidak termasuk Subjek Pajak Penghasilan apabila memenuhi syarat sebagai berikut:

  • Indonesia menjadi anggota organisasi tersebut; dan
  • Tidak menjalankan usaha atau kegiatan lain untuk memperoleh penghasilan dari Indonesia selain pemberian pinjaman kepada Pemerintah yang dananya berasal dari iuran para anggota.

Organisasi-organisasi internasional yang berbentuk kerjasama teknik dan atau kebudayaan yang tidak termasuk Subjek Pajak Penghasilan apabila memenuhi syarat sebagai berikut:

  • Kerjasama teknik tersebut memberi manfaat pada Negara / Pemerintah Indonesia;
  • Tidak menjalankan usaha atau kegiatan lain untuk memperoleh penghasilan dari Indonesia.

Organisasi-organisasi internasional yang memenuhi syarat sebagai bukan Subjek Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud adalah sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran Peraturan Menteri Keuangan yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri Keuangan.

Pelabat-pejabat perwakilan dari organisasi internasional sebagaimana dimaksud yang tidak termasuk Subjek Pajak Penghasilan apabila memenuhi syarat sebagai berikut:

  • Bukan Warga Negara Indonesia; dan
  • Tidak menjalankan usaha atau kegiatan atau pekerjaan lain untuk memperoleh penghasilan dari lndonesia.

Untuk selengkapnya dapat diunduh disini.

PP tentang Sumbangan yang dapat Dikurangkan dari Penghasilan Bruto

PP no 93 tahun 2010 tentang Sumbangan Penanggulangan Bencana Nasional, Sumbangan Penelitian dan Pengembangan, Sumbangan Fasilitas Pendidikan, Sumbangan Pembinaan Olahraga, dan Biaya Pembangunan Infrastruktur Sosial Yang Dapat Dikurangkan dari Penghasilan Bruto, telah ditetapkan oleh Pemerintah pada tanggal 30 Desember 2010.

Sumbangan dan/atau biaya yang dapat dikurangkan sampai jumlah tertentu dari penghasilan bruto dalam rangka penghitungan penghasilan kena pajak bagi wajib pajak terdiri atas:

Dapat diberikan dalam bentuk uang dan/atau barang:

  • Sumbangan dalam rangka penanggulangan bencana nasional, yang merupakan sumbangan untuk korban bencana nasional yang disampaikan secara langsung melalui badan penanggulangan bencana atau disampaikan secara tidak langsung melalui lembaga atau pihak yang telah mendapat izin dari instansi/lembaga yang berwenang untuk pengumpulan dana penanggulangan bencana;
  • Sumbangan dalam rangka penelitian dan pengembangan, yang merupakan sumbangan untuk penelitian dan pengembangan yang dilakukan di wilayah Republik Indonesia yang disampaikan melalui lembaga penelitian dan pengembangan;
  • Sumbangan fasilitas pendidikan, yang merupakan sumbangan berupa fasilitas pendidikan yang disampaikan melalui lembaga pendidikan;
  • Sumbangan dalam rangka pembinaan olahraga, yang merupakan sumbangan untuk membina, mengembangkan dan mengoordinasikan suatu atau gabungan organisasi cabang/jenis olahraga prestasi yang disampaikan melalui lembaga pembinaan olah raga; dan

Besarnya nilai sumbangan dan/atau biaya pembangunan infrastruktur sosial yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto untuk 1 (satu) tahun dibatasi tidak melebihi 5% (lima persen) dari penghasilan neto fiskal Tahun Pajak sebelumnya.

Diberikan dalam bentuk sarana dan/atau prasarana:

  • Biaya pembangunan infrastruktur sosial merupakan biaya yang dikeluarkan untuk keperluan membangun sarana dan prasarana untuk kepentingan umum dan bersifat nirlaba.

Sumbangan dan/atau biaya tersebut dapat dikurangkan dari penghasilan bruto dengan syarat:

  1. Wajib Pajak mempunyai penghasilan neto fiskal berdasarkan Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Tahun Pajak sebelumnya;
  2. Pemberian sumbangan dan/atau biaya tidak menyebabkan rugi pada Tahun Pajak sumbangan diberikan;
  3. Didukung oleh bukti yang sah; dan
  4. Lembaga yang menerima sumbangan dan/atau biaya memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak, kecuali badan yang dikecualikan sebagai subjek pajak sebagaimana diatur dalam Undang-Undang tentang Pajak Penghasilan.

Besarnya nilai sumbangan dan/atau biaya pembangunan infrastruktur sosial yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto untuk 1 (satu) tahun dibatasi tidak melebihi 5% (lima persen) dari penghasilan neto fiskal Tahun Pajak sebelumnya.

Unduh selengkapnya dapat dilihat disini.

Apakah Yayasan dan Perkumpulan Merupakan Subyek Pajak?

Tulisan ini melengkapi tulisan yang lalu yang berjudul Apa dan Siapa yang menjadi Subyek PPh di Indonesia?

Seperti yang diuraikan di tulisan sebelumnya,

Subyek Pajak adalah segala sesuatu yang mempunyai potensi untuk memperoleh penghasilan, dan menjadi sasaran untuk dikenakan pajak penghasilan.

Subyek pajak terdiri dari:

a. Orang pribadi: yang bertempat tinggal atau berada di Indonesia atau pun orang pribadi di luar Indonesia yang mendapat penghasilan dari Indonesia atau melakukan kegiatan di Indonesia.

b. Warisan: warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan yang menggantikan yang berhak merupakan subyek pajak pengganti yang mewakili ahli waris.

c. Badan: yang terdiri dari badan yang didirikan atau bertempat kedudukan di Indonesia, yakni perseroan terbatas, perseroan komanditer, dan perseroan lainnya, badan usaha milik negara dan badan usaha milik daerah, persekutuan, perkumpulan, firma, kongsi koperasi,yayasan atau organisasi sejenisdan bentuk usaha lainnya.

d. Bentuk usaha tetap adalah bentuk usaha yang dipergunakan oleh orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia, atau badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia untuk menjalankan usaha atau melakukan kegiatan yang berupa: tempat kedudukan manajemen, cabang perusahaan, kantor perwakilan, gedung kantor, pabrik, bengkel, pertambangan dan .penggalian sumber alam, wilayah pengeboran untuk eksplorasi pertambangan, perikanan, peternakan, pertanian,perkebunan, kehutanan, proyek konstruksi, pemberian jasa lebih dari 60 hari dalam setahun, agen tidak bebas.

Menurut undang-undang, badan yang merupakan subyek pajak terdiri dari berbagai jenis badan.

Beberapa dari badan yang disebutkan dalam ketentuan cukup jelas dimengerti bila dipakai Kitab undang-undang Hukum Dagang sebagai acuan, yaitu perseroan terbatas (PT, NV), perseroan komanditer (CV), Firma (Fa), persekutuan, kongsi, koperasi. Mengenai bentuk usaha tetap, undang-undang memberikan penjelasan yang cukup.

Badan usaha milik Negara (BUMN), badan usaha milik daerah (BUMD), dan dana pensiun dijelaskan pada perundang-undangan yang berlaku sekarang. Undang-undang yang berlaku sekarang menyebutkan bahwa dana pensiun merupakan bentuk badan tersendiri. Sebelumnya dana pensiun biasanya didirikan dalam bentuk yayasan.

Undang-undang membedakan lembaga (bahasa Belanda: instituut; bahasa Inggris: institute) dari yayasan (bahasa Belanda: stichting; bahasa Inggris: foundation). Baik yayasan maupun lembaga adalah badan yang bergerak dalam bidang sosial yang tujuannya tidak berorientasi untuk mencari keuntungan.

Lalu, bagaimana penjelasan bagi Yayasan atau Perkumpulan?

Perkumpulan (bahasa Belanda: vereniging; bahasa Inggris: association) merupakan istilah yang umum untuk menyatukan orang-orang dalam satu wadah yang terorganisir untuk melakukan kegiatan dengan tujuan tertentu.

Pengertiannya luas dan beraneka ragam, ada yang sangat erat ikatan keanggotaannya dengan aturan main yang jelas, dan ada pula yang tidak mempunyai peraturan. Termasuk dalam pengertian perkumpulan menurut undang-undang adalah asosiasi, persatuan, perhimpunan, atau ikatan dari pihak-pihak yang mempunyai kepentingan yang sama. Perkumpulan yang menjalankan usaha atau melakukan kegiatan untuk memperoleh penghasilan atau memberikan jasa kepada anggota merupakan subyek pajak.

Perkumpulan dapat berbentuk badan hukum atau bukan badan hukum dan ada dalam bentuk yayasan atau lembaga; dari perkumpulan olah raga yang mempunyai anggota tertentu dengan anggaran dasar yang jelas sampai dengan perkumpulan pangajian dan arisan yang anggotanya bebas terbuka tanpa ada aturan tertulis yang jelas.

Selain itu banyak perkumpulan atau juga disebut organisasi kemasyarakatan yang melakukan kegiatan yang bergerak di berbagai bidang, seperti bidang sosial, politik, ekonomi, hukum, seni, dan budaya, serta perkumpulan keagamaan seperti anggota jemaah masjid yang teratur. Perkumpulan keagamaan, misalnya, biasa menerima iuran, bantuan, infaq, sedekah, sumbangan, atau hibah dari anggota atau pihak lain, dan perkumpulan ini memberikan jasa berbentuk rohaniah dan spiritual.

Dalam kenyataan, belum pernah terdengar bahwa perkumpulan seperti itu dikenakan pajak. Perundang-undangan sendiri tidak menegaskan bagaimana kewajiban perpajakan dari badan yang memenuhi persyaratan sebagai subyek pajak.

Undang-undang membedakan lembaga (bahasa Belanda: instituut; bahasa Inggris: institute) dari yayasan (bahasa Belanda: stichting; bahasa Inggris: foundation). Baik yayasan maupun lembaga adalah badan yang bergerak dalam bidang sosial yang tujuannya tidak berorientasi untuk mencari keuntungan.

Misalnya, bidang kesehatan, pendidikan, seni, budaya, rumah yatim piatu, perlindungan hak dan hukum, perdamaian, dan lain-lain. Dalam praktek kedua badan tersebut dipakai untuk kegiatan dalam bidang yang disebutkan tanpa adanya perbedaan yang jelas.

Lembaga adalah badan yang menyelenggarakan kegiatan di bidang sosial, bukan usaha yang mencari laba. Lembaga mendapat pembiayaan dari pihak lain, atau dari yayasan. Namun pada prakteknya di Indonesia, banyak lembaga yang tidak jelas sifat atau kegiatannya, apakah bersifat usaha dagang atau sosial. Mulai dari lembaga pendidikan yang bersifat komersil yang menyelenggarakan kursus dan pelatihan keterampilan sampai kepada lembaga swadaya masyarakat yang menyelenggarakan kegiatan sosial, budaya dan sebagainya.

Yayasan adalah satu badan yang mempunyai kekayaan sendiri yang terpisah yang bukan dimiliki oleh pihak tertentu, dan didirikan untuk melakukan kegiatan yang tujuannya mencari dan menghimpun dana untuk disalurkan kepada badan lain yang menyelenggarakan kegiatan sosial yang tidak mencari laba.

Pendiri yayasan yang lazimnya juga menjadi pengurus menyerahkan dan memisahkan sejumlah kekayaan yang bukan merupakan penyertaan modal, oleh karena yayasan tidak mempunyai pemilik. Kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh yayasan terbatas kepada melakukan penanaman modal pada usaha-usaha yang dapat menghasilkan dana seperti pemilikan saham atau obligasi.

Undang-undang yang lama memberikan perlakuan perpajakan khusus terhadap yayasan dibandingkan dengan subyek pajak yang lain. Tujuan yayasan yang lazimnya tidak mencari laba merupakan pertimbangan untuk memberikan perlakuan khusus itu. Undang-undang tersebut mengatakan bahwa formalitas yang disebutkan dalam anggaran dasar bukan merupakan ukuran untuk menilai apakah suatu yayasan dibebaskan dari pengenaan pajak tetapi hakikat yang sebenarnyalah yang menentukan apakah suatu yayasan itu mencari keuntungan atau tidak.

Di negara kita, masih banyak yayasan yang didirikan oleh orang yang mengharapkan imbalan dari kegiatan dan usaha yang dilakukan oleh yayasan. Kegiatan yayasan sering dijalankan melalui suatu badan sosial, seperti pendidikan, rumah sakit, keagamaan yang dapat menghasilkan dana; dan dana yang diperoleh dari kegiatan sosial ini dikelola dan dikuasai oleh yayasan.

Fungsi yayasan lebih banyak mengurus kegiatan sosialnya, ketimbang mencari tambahan dana yang diperlukan. Dangan demikian, sumber utama kebutuhan dana untuk pembiayaan kegiatan sosial yang dilakukan lebih banyak berasal dari usaha sosialnya, seperti uang kuliah atau uang sekolah (pada yayasan pendidikan), dan uang pengobatan penderita (pada yayasan kesehatan). Dan tidak jarang dari hasil penerimaan ini masih dapat disisihkan untuk kepentingan pribadi pengurus, melakukan kegiatan lain yang justru sudah menyimpang dari tujuan awal pendirian yayasan tersebut. Dengan demikian fungsi sosialnya sudah hilang, tetapi namanya tetap yayasan, sebagaimana lazimnya yayasan yang dibentuk sebagai satu badan hukum.

Penyalahgunaan nama yayasan yang sering terjadi dalam praktek menyebabkan perlakuan khusus itu kemudian ditinjau kembali dalam perundang-undangan yang baru. Di beberapa negara lain, badan-badan yang bergerak di bidang sosial seperti rumah sakit dan pendidikan, didirikan sebagai badan yang berbentuk perseroan terbatas yang tujuannya mencari laba dan mampu bersaing dengan badan yang berbentuk yayasan.

Perkembangan dalam dunia ekonomi dan perkumpulan dalam persepsi masyarakat dewasa ini menyebabkan bataa-batas dunia usaha dan kegiatan sosial makin kabur. Kegiatan lembaga-lembaga sosial telah berbaur dengan kegiatan komersil. Perusahaan-perusahaan komersil sudah ikut ambil bagian dalam kegiatan sosial, dan secara langsung atau tidak telah ikut serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Perusahaan tidak lagi mengutamankan prinsip mencari laba yang sebear-sebesarnya. Perusahaan semakin mempunyai etika usaha dengan memperhatikan kepentingan masyarakat. Sebaliknya di lain pihak, lembaga sosial tidak lagi hanya sekedar menyalurkan dana dan terpaku kepada usaha sosialnya, tetapi sudah menekankan prinsip-prinsip efektifitas dalam kegiatannya untuk mencapai tujuan.

Walaupun undang-undang cukup jelas menyebutkan badan-badan yang disebutkan di atas sebagai subyek pajak, namun belum tentu pengertian yang dijelaskan di atas sesuai dengan pengertian yang dianut oleh undang-undang, fiskus, maupun wajib pajak.

Dalam prakteknya dapat saja terjadi perbedaan pendapat. Bagaimana perlakuan perpajakan rumah sakit, badan pendidikan seperti perguruan tinggi, sekolah, tidak disebut dalam undang-undang.

5 Pertanyaan yang Sering Muncul tentang Pajak LSM

5 pertanyaan yang sangat sering muncul di LSM tentang pajak

Q: Apakah LSM harus bayar PPh Badan?

A: Tidak ada pengecualian bagi Yayasan atau Perkumpulan dari PPh Badan. Status Yayasan atau Perkumpulan sebagai badan hukum adalah Subyek Pajak atau Wajib Pajak.

Q: Tapi LSM kan non profit? Sedangkan PPh Badan obyek pajaknya adalah keuntungan/laba organisasi?

A: Bagi penerimaan atas sumbangan atau donasi atau hibah yang digunakan bagi kepentingan nirlaba, memang dikecualikan dari obyek pajak. Namun penerimaan organisasi dari jenis lain, kemungkinan besar merupakan obyek pajak. Misalnya penerimaan dari peserta pelatihan, penerbitan dan penjualan buku, dll.

Q: Apakah jika PPh Badan nihil tetap harus lapor ke Kantor Pajak?

A: Ya, semua wajib pajak harus lapor SPT. Kalo dengan sengaja tidak lapor, sanksinya adalah pidana. Kalo terlambat, utk tahun pajak s.d 2007 denda Rp 100.000,-; utk tahun pajak setelah 2008 denda sebesar Rp 1juta.

Kewajiban pajak bukan untuk disiasati. Lebih baik kita mulai mengerti dan memahaminya, agar kita terhindar dari segala sangsi (denda dan bunga). Kita juga perlu memisahkan dengan memadai mana penerimaan yang menjadi obyek pajak mana yang bukan.

Q: Bagaimana jika kami sudah lama memiliki NPWP dan selama ini tidak pernah menjalankan kewajiban perpajakan termasuk melaporkan SPT ? Apa yang harus kami lakukan?

A: Apabila organisasi yang dimaksud tidak beroperasi, maka dapat mengajukan surat keterangan kepada Kantor Pajak yang bersangkutan. Namun apabila organisasi tersebut memang beroperasi tapi tidak melaporkan pajak, maka idealnya dapat melaporkan pajak sejak di keluarkannya NPWP dengan batasan waktu 10 tahun terakhir (sesuai dengan batas kadalursa pajak).

Q: Bagaimana cara mensiasati kewajiban pajak-pajak tersebut?

A: Kewajiban pajak bukan untuk disiasati. Lebih baik kita mulai mengerti dan memahaminya, agar kita terhindar dari segala sangsi (denda dan bunga). Kita juga perlu memisahkan dengan memadai mana penerimaan yang menjadi obyek pajak mana yang bukan. Sebagai salah satu komponen negara, seyogyanya LSM juga memandang pajak sebagai salah satu cara kontribusi mereka bagi pembangunan Indonesia.

Apakah masih banyak yang ingin Anda ketahui perihal pajak di LSM??

Segera lihat informasi, dan unduh formulir pendaftarannya di: www.penabulu.or.id atau www.keuanganlsm.com.

Dasar Penyusutan Aktiva Tetap

Pada dasarnya, penyusutan adalah proses alokasi biaya dan penerapan prinsip-prinsip pembandingan, di mana alokasi biaya perolehan aktiva tetap dilakukan sesuai periode selama penggunaan aktiva tersebut menimbulkan manfaat (masa manfaat); bukan pembebanan biaya sekaligus pada saat aktiva tetap tersebut diperoleh.

Tiga faktor yang menentukan metode penghitungan biaya penyusutan atas aktiva tetap adalah:

1. Dasar penyusutan:

Mengacu pada selisih antara biaya perolehan aktiva tetap, yang merupakan jumlah aktiva di mana awalnya dicatat dan nilai sisa yang diharapkan.

Dasar penyusutan dicatat sebagai jumlah total biaya depresiasi, total biaya penggunaan aktiva selama periode akuntansi di mana aktiva tersebut dapat digunakan secara normal.

2. Masa manfaat:

Masa manfaat suatu aktiva adalah periode waktu di mana organisasi mengharapkan aktiva tersebut dapat digunakan dalam proses operasi normal.

Pada dasarnya, penyusutan adalah proses alokasi biaya dan penerapan prinsip-prinsip pembandingan, di mana alokasi biaya perolehan aktiva tetap dilakukan sesuai periode selama penggunaan aktiva tersebut menimbulkan manfaat (masa manfaat).

3. Pola alokasi biaya:

Pola alokasi biaya biasanya disebut metode depresiasi dan prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum mengharuskan metode depresiasi dilakukan sistematis dan rasional.

Metode penyusutan yang biasa diterapkan organisasi untuk aktiva tetap adalah metode garis lurus. Penyusutan dialokasikan untuk setiap tahun dengan membagi dasar penyusutan oleh perkiraan masa manfaat aktiva pada tahun sebagai berikut:

  • Tanah, tidak disusutkan;
  • Bangunan, disusutkan sebesar 5% per tahun;
  • Kendaraan, disusutkan sebesar 20% per tahun;
  • Mesin, disusutkan sebesar 25% per tahun;
  • Perabot dan Peralatan, disusutkan sebesar 25% per tahun.

Informasi berikut harus diungkapkan dalam Catatan atas Laporan Keuangan:

  • Biaya penyusutan untuk periode pelaporan;
  • Saldo atas aktiva pada tanggal neraca;
  • Akumulasi penyusutan pada tanggal neraca.
  • Penjelasan umum atas metode atau metode-metode yang digunakan untuk menghitung penyusutan atas aktiva tetap.

Azaz Materialitas dalam Penyajian Laporan Keuangan

Dalam penyusunan sebuah Laporan Keuangan, terdapat batasan yang harus dipertimbangkan. Prinsip-prinsip akuntansi umum harus diikuti secara ketat untuk hal-hal material dalam pelaporan keuangan. Apa maksudnya?

Lihat gambar di bawah, dan di mana posisi Azas Materialitas sebagai salah satu karakteristik Laporan Keuangan:

Gambar Karakter Pelaporan Keuangan

bagan1

Dalam penyusunan sebuah Laporan Keuangan, terdapat batasan yang harus dipertimbangkan. Prinsip-prinsip akuntansi umum harus diikuti secara ketat untuk hal-hal material dalam pelaporan keuangan.

Informasi dianggap material jika informasi tersebut mempunyai efek yang signifikan terhadap keputusan manajemen.

Materialitas merupakan konsep yang kadang agak sulit dipahami karena tergantung pada:

  • Jumlah/besaran hal yang terkait,
  • Sifat hal terkait,
  • Gabungan antara jumlah serta sifat hal tersebut.

Maka, dalam menentukan materialitas sebuah item/hal, ada dua faktor yang harus dipertimbangkan:

  1. Jumlah/besaran hal yang terkait,
  2. Sifat hal terkait.

Ketika mempertimbangkan besaran, item tersebut harus dibandingkan dengan mempergunakan besaran dasar pembanding yang sesuai.

Berikut ini adalah contoh besaran yang harus dipergunakan:

  • Item pendapatan atau biaya harus dibandingkan dengan jumlah total pendapatan atau biaya sesuai dengan klasifikasi masing-masing; dan juga harus dibandingkan dengan kelebihan pendapatan dikurangi biaya untuk tahun berjalan;
  • Item-item  neraca harus dibandingkan dengan sub total klasifikasi neraca yang sesuai dan juga harus dibandingkan dengan aktiva bersih;

Perbandingan di atas harus dikategorisasi dengan batasan-batasan persentase, semisal:

  • 10% atau lebih dari jumlah/besaran pembanding harus dianggap material, kecuali terdapat bukti yang menunjukkan sebaliknya;
  • Kurang dari 10% dari jumlah/besaran pembanding akan dianggap tidak material, kecuali terdapat bukti yang menunjukkan sebaliknya.

Ketika menentukan sifat atau karakteristik sebuah item, faktor-faktor berikut harus dipertimbangkan:

  1. Persyaratan perundang-undangan. Margin kesalahan yang diijinkan pada pengungkapan item ssuai persyaratan hukum pajak mungkin kecil atau bahkan tidak ada.
  2. Material secara/dalam prinsip. Meskipun dalam jumlah kecil, perlu untuk dipertimbangkan sebagai material jika memang item tersebut terkait dengan prinsip dan kebijakan akuntansi.
  3. Tingkat estimasi/perkiraan. Item-item yang mampu diukur dengan tepat (misalnya untuk item moneter) akan diukur dengan tingkat estimasi yang lebih kecil daripada item-item yang diukur berdasarkan estimasi dan asumsi (seperti dalam kasus valuasi saham atau depresiasi).
  4. Item non-pengulangan atau kejadian alam luar biasa. Item ini akan menjadi lebih material dalam hal pengungkapan dibanding item yang timbul dari kegiatan biasa organisasi.

Dalam setiap kasus di mana kita perlu menggunakan penilaian materialitas item tersebut, penting untuk mendokumentasikan penalaran atau justifikasi yang diadopsi.

Pelaporan Keuangan Berbasis Akrual (Accrual Basis)

Apa sih Pelaporan Keuangan Berbasis Akrual (Accrual Basis) itu?

Basis Akrual adalah “penyandingan pendapatan dan biaya pada periode di saat terjadinya”, bukan pencatatan pada saat pendapatan tersebut diterima ataupun biaya tersebut dibayarkan (Cash Basis).

Ada dua metode pencatatan akuntansi, berbasis kas dan berbasis akrual. Akuntansi berbasis kas berarti hanya mencatat transaksi pada saat terjadinya transaksi kas.

Akuntansi berbasis akrual selain mencatata transaksi pengeluaran dan penerimaan kas, juga mencatat jumlah hutang dan piutang organisasi. Oleh karena itu, akuntansi berbasis akrual memberikan gambaran yang lebih akurat atas kondisi keuangan organisasi daripada akuntansi berbasis kas. Namun, jelas bahwa catatan menggunakan basis akrual lebih kompleks daripada basis kas.

Lebih jauh lagi, basis akrual mendukung penggunaan anggaran sebagai teknik pengendalian. Karena pada basis kas, pembayaran hanya direkam jika hal itu telah dilakukan, sementara pembayaran kewajiban dapat dilakukan dengan jarak waktu tertentu setelah timbulnya kewajiban itu sendiri. Untuk alasan penganggaran, organisasi dapat lebih baik menggunakan akuntansi berbasis akrual.

Untuk mengadopsi akuntansi basis akrual, organisasi akan memerlukan informasi seperti pendapatan atas investasi yang belum jatuh tempo. Organisasi juga akan memerlukan informasi mengenai kewajiban keuangan masa depan yang dapat diperkirakan jumlahnya. Dengan komputerisasi sistem akuntansi, upaya yang diperlukan untuk menjaga informasi ini dapat dilakukan secara memadai.

Bagaimana Basis Akrual diterapkan di NGO?

Karena karakteristik NGO dan juga jenis MoU yang kesepakatannya dibangun bersama dengan donator/grantor, maka NGO belum mencatat Pendapatan atas Piutang pada saat penandatanganan MoU.

Untuk tujuan pelaporan seusai PSAK 45, pendapatan dari kontribusi dan sumbangan hibah, dicatat sebagai Pendapatan pada saat diterimanya dana.

Semoga bermanfaat.

Antara IFAC dan IASC, IAS dan ISA, IFRS dan FASB

Di lingkup global, pada awalnya sebenarnya ada dua badan penyusun standar yang berkaitan dengan praktik akuntansi secara internasional. Badan-badan itu adalah The International Accounting Standards Committee (IASC) dan The International Federation of Accountant (IFAC).

Kesepakatan pembentukan IASC terjadi pada  Juni 1973 di Inggris yang diwakili oleh organisasi profesi akuntansi dari sembilan negara, yaitu Australia, Canada, Prancis, Jerman Barat, Jepang, Mexico, Belanda, Inggris, dan Amerika Serikat. Sedangkan IFAC didirikan oleh badan profesi akuntan dari 63 negara pada bulan Oktober 1977.

IASC lebih berkonsentrasi untuk menyusun International Accounting Standards (IAS). Sedangkan IFAC lebih memfokuskan pada upaya pengembangan International Standard Audits (ISA), kode etik, kurikulum pendidikan, dan kaidah-kaidah bagi akuntan dalam berbisnis.

Pada April 2001 The International Accounting Standards Committee (IASC) berkembang menjadi The International Accounting Standards Board (IASB),yang oleh karena perkembangan ini maka International Accounting Standards (IAS)kemudianjuga dikembangkan menjadiInternational Financial Reporting Standards (IFRS). IFRS yang pertama terbit pada Juni 2003.

IFRS sebagai sebuah kerangka dan interprestasinya yang diadopsi oleh IASB memiliki peraturan yang luas terdiri dari:

  1. International Accounting Standard (IAS) – standar yang diterbitkan sebelum 2001.
  2. International Financial Reporting Standards (IFRS) – standar yang dikeluarkan setelah tahun 2001.
  3. Standing Interpretations Committee (SIC) – yang diterbitkan sebelum 2001.
  4. International Financial Reporting Issues Committee (IFRIC) – yang diterbitkan setelah tahun 2001.
  5. Framework for the Preparation and Presentation of Financial Statements.

Konvergensi IFRS adalah salah satu kesepakatan G20 Forum, pada November 2008.

IFRS telah digunakan di banyak negara, termasuk Uni Eropa, Hong Kong, Australia, Malaysia, Pakistan, negara-negara GCC, Rusia, Afrika Selatan, Singapura, dan Turki. Sejak Agustus 2008, lebih dari 113 negara di seluruh dunia, termasuk seluruh Eropa, saat ini menggunakan IFRS sebagai standar pelaporan keuangan. Di Indonesia sendiri IFRS baru akan diadopsi secara resmi mulai tahun 2012.

Namun, faktanya saat ini standar akuntansi yang berlaku di Amerika Serikat yang disusun oleh Financial Accounting Standards Board (FASB), masih diikuti oleh beberapa negara, baik secara langsung maupun modifikasi.

FASB sendiri kemudian menghasilkan Statement of Financial Accounting Standards (FAS), dan menggantikan peran Accounting Principles Board (APB) yang merupakan badan otoritatif yang dibangun American Institute of Certified Public Accountants (AICPA) pada tahun 1959,  menggantikan Committee on Accounting Procedure (CAP) yang dibangun sebelumnya pada tahun 1936 dan menerbitkan pernyataan prinsip-prinsip akuntansi sampai dengan tahun 1973, untuk kemudian digantikan oleh the Financial Accounting Standards Board (FASB).

Sebagai contoh, PSAK Indonesia memiliki komposisi referensi sebagai berikut :

Referensi Jumlah
International Accounting Standards (IAS) 28
Disusun IAI sendiri 11
FASB Statement of Standards :
–   Statement Financial Accounting Standards 17
–   Accounting Principles Board Opinion 2
–   Accounting Research Bulletin 1
Total Nomor PSAK 59

Akuntansi Dana (Fund Accounting) NGO

Apa sih Akuntansi Dana (Fund Accounting) bagi NGO itu?

Akuntansi Dana adalah sebuah konsep akuntansi di mana aktiva dipisah-pisahkan berdasar masing-masing sumber dan peruntukkan dana. Karena dalam penyajian laporan keuangan, organisasi nirlaba harus mengidentifikasi kategori batasan penggunaan dana yang diberikan oleh donor, oleh karenanya organisasi mengadopsi akuntansi dana.

Tiga kategori aktiva bersih yang di definisikan adalah: Tidak Terikat, Terikat Sementara dan Terikat Permanen. Aktiva yang memiliki katakeristik batasan yang sama, digabungkan dan dicatat ke dalam satu kategori,  kecuali donor meminta adanya penyajian khusus.

Organisasi nirlaba dapat saja menerima berbagai sumbangan, donasi maupun hibah yang masing-masing mempunyai batasan tersendiri. Jika dimungkinkan untuk menyusun catatan terpisah atas masing-masing dana, maka pilihan tersebut bisa dilakukan.

Kategori Dana

Organisasi nirlaba dapat saja menerima berbagai sumbangan, donasi maupun hibah yang masing-masing mempunyai batasan tersendiri. Jika dimungkinkan untuk menyusun catatan terpisah atas masing-masing dana, maka pilihan tersebut bisa dilakukan. Salah satu pertimbangan kenapa pilihan ini digunakan adalah ukuran besarnya dana yang diterima dan dikelola.

Namun secara umum, untuk menyederhanakan pencatatan, kategori dana yang digunakan oleh organisasi nirlaba adalah: Dana Terikat dan Dana Tidak Terikat.

Dana Tidak Terikat. Dana ini tidak memiliki batasan penggunaan, dan organisasi dapat menggunakan dana tersebut sesuai dengan kebutuhan untuk tujuan-tujuan organisasi.

Dana Terikat. Batasan atau ikatan sementara dari penyumbang dapat membuat dana dapat digunakan pada periode yang akan datang atau setelah tanggal tertentu (ikatan waktu), atau dana dapat digunakan untuk tujuan tertentu (ikatan tujuan), atau keduanya.